Thefubbys’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Perkembangan Dewasa Awal Oktober 13, 2009

Filed under: Uncategorized — melly fitria @ 12:39 pm

Pendahuluan

Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran dan tanggung jawabnya tentu makin bertambah besar. la tak lagi harus bergantung secara ekonomis, sosiologis ataupun psikologis pada orang tuanya. Mereka justru merasa tertantang untuk membukukan dirinya sebagai seorang pribadi dewasa yang mandiri. ‘Segala urusan ataupun masalah yang dialami dalam hidupnya sedapat mungkin akan ditangani sendiri tanpa bantuan orang lain, termasuk orang tua. Berbagai pengalaman baik yang berhasil maupun yang gagal dalam menghadapi suatu masalah akan dapat dijadikan pelajaran berharga guna mem-bentuk seorang pribadi yang matang, tangguh, dan bertanggung jawab terhadap masa depannya.

Secara fisik, seorang dewasa muda {young adulthood) menampil-kan profil yang sempurna dalam arti bahwa pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek fisiologis telah mencapai posisi puncak. Mereka memiliki daya tahan dan taraf kesehatan yang prima sehingga dalam melakukan berbagai kegiatan tampak inisiatif, kreatif, energik, cepat, dan proaktif.

Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young ) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition^ transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).

I. Perubahan dari masa remaja ke dewasa awal

Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapn-harapan sosial baru. Pada masa ini, individu diharapkan memainkan peran baru, eperti suami/istri, orang tua, pencari nafkah, dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas yang baru. Periode ini merupakan periode yang khusus dan sulit. Individu diharapkan mengadakan penyesuaian diri secara mandiri.

Selama masa dewasa, perubahan-perubahan fisik dan psikologis terjadi pada waktu-waktu yang dapat diramalkan seprti masa kanak-kanak dan remaja, yang juga mencakup periode yang cukup lama-saat terjadinya perubahan-perubahan fisik dan psikologis tertentu, masa dewasa biasanya dibagi berdasarkan periode yang menunjuk- pada perubahan-perubahan tersebut, bersama dengan masalah-masalah penyesuaian diri dan tekanan-tekanan berdaya serta harapan-harapanyang timbul akibat perubahan tersebut.

Dikatakan bahwa masa anak-anak dan remaja merupakan periode “pertumbuhan” dan masa dewasa merupakan masa “pengaturan”. Pada masa dewasa pria muda mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditanganinya sebagai kariernya, sedangkan wanita muda diharapkan mulai menerima tanggunga jawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Sekarang, diakui bahwa penjajakan terlalu singkat sering terbentuknya bibit-bibit ketidakpuasan karena terlalu cepat memilih pekerjaan atau teman hidup. Oleh sebab itu, banyak orang muda mencoba berbagai pekerjaan untuk menentukan mana yang paling sesuai untuk memenuhi berbagai keperluan mereka dan yang akan memberikan kepuasan yang lebih permanent

2
Sekali seseorang telah menemukan pola hidup yang diyakininya dapt memenuhi kebutuhannya, ia akan mengembangkan pola-pola perilaku sikap dan nilai-nilai yang cenderung akan menjadi kekhasan selama sisa hidupnya.

II. Perkembangan Fisik

Kondisi Kesehatan dan Fisik

Pemuda biasanya berada di puncak kesehatan, fungsi sensoris dan motoris. Pada pertengahan usia 20 semua fungsi tubuh berkembang dengan sempurna. Pada usia 20-40 tahun ketajaman visual mencapai puncaknya namun pada usia 45 tahun terjadi penurunan terhadap rasa, bau, serta sensitivitas.

Status kesehatan.Kurang dari 6% pemuda beusia 25-44 tahun yang menyatakan kesehatan mereka sedang-sedang saja atau buruk (NCHS, 2002B). banyak diantara mereka yang tidak pernak sakit atau cacat, dan sebagian besar tidak memiliki kondisi kronis atau kerusakan. Yang paling umum adalah rasa sakit pada tulang belakang.

Kecelakaan merupakan penyebab kematian orang Amerika berusia 20-30 tahun, diikuti dengan pembunuhan dan bunuh diri. Ketiga hal ini bertanggung jawab terhadap 72% kematian di usia 20an awal dan 51% diantara usia 25-34 tahun.

Masa dewasa awal, fondasi fungsi fisik untuk rentang kehidupan selanjutnya telah dibentuk walaupun ada bagian dari kesehatan yang dipengaruhi oleh gen, factor perilaku apa yang dimakan oleh si pemuda. Apakah dia mendapatkan cukup tidur? Apa mereka merokok atau mengkonsumsi minuman keras atau obat terlarang? Semua itu memberi dampak pada kesehatan dan kesejahteraan pada saat ini dan masa mendatang.
3
Pengaruh genetic pada kesehatan.Sebagian besar penyakit bersifat multifactor, melibatkan penyebab genetic maupun lingkungan. Contoh, penderita diabetis mellitus yang tidak tergantung pada insulin, yang menyerang kurang lebih 4% populasi di dunia. Para periset telah menemukan sebuah gen dalam kromosom 2 yang memberikan kontribusi terhadap kerentanan terhadap penyakit ini pada diri orang meksiko amerika. Factor resiko bagi atheroscleorosis (penyempitan arteri) yang mungkin dimulai pada masa kanak-kanak dan menjadi ancaman pada usia 40 dan 50an. Mencakup tekanan darrah tinggi, merokok dan peningkatan level kolesterol dalam darah. Diperkirakan 80% variasi pda level HDL (kolesterol baik) dalam populasi berkaitan dengan factor genetic.

Pengaruh perilaku pada kesehatan dan kebugaran. Dalam sebuah study longitudinal terhadap 7000 orang dewasa berusia 20-70 tahun, kesehatan dihubungkan langsung kepada beberapa perilaku yang biasa dilakukan. Contoh, mengkonsumsi makanan reguler, termasuk sarapan pagi dan tidak mengemil, makan dan berolah raga secara moderat, tidur secara reguler 7-8 jam setiap harinya, tidak merokok dan mengkonsumsi minuman keras secara moderat.

Tindakan preventif bisa memberikan keuntungan. Test pemindaian reguler seperti papsmir yang dilakukan untuk mendeteksi kanker mulut rahim dan pengujian mandiri testicular untuk mendeteksi kanker testis, dapat mencegah penyakit tersebut atau mengungkapkannya pda stadium dini yag masih dapat diobati.

Hubungan antara perilaku dan kesehatan mengilustrasikan kesaling ketergantungan antara aspek perkembangan fisik, kognitif dna emosianal. Lingkungan kepribadia, emosi, dan sosial sering kali menggangu apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang dan mengarahkan mereka kepada perilaku yang tidak sehat.

4
 Nutris dan kolesterol.
secara singkat memaparkan nilai penting nutrisi bagi ksehatan fisik dan mental. Apa yng dimakan mempengaruhi bagaimana penampilan, perasaan dan kerentanan orang-orang terhadap penyakit. Kebiasaan makan berperan penting dalam penyakit jantung sebagaimana yang ditunjukan oleh Arthur ashe, tidak harus dibatasi pada waktu mendatang. Orang-orang yang mengkomsumsi buah dan sayur, terutama yang kaya karotenoid bisa menurunkan peluang mereka terhadap penyakit jantung. Ulasan dari banyak studi epidemiologis menemukan bahwa mengikuti diet berbasis tumbuhan dan dengan terus aktif, mempertahan berat yang sehat, dan menahan diri dari rokok dapat memangkas resiko terkena kanker apapun hingga 70%.

 Obesitas.
Obesitas pada orang dewasa biasa dengan body mass index, jumlah kilogram berat/meter/segi tinggi. Seorang dewasa BMI 25 atau lebih dianggap kelebihan berat badan, dan seseorang dengan BMI 30 atau lebih dianggap masuk kategori obesitas. Pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dan wanita sengan lebih dari 30% bisa dianggap obesitas. WHO telah menyebut obesitas sebagai epidemis dunia (WHO, 1998). Dalam masyarakat yang menghargai kelangsingan, kegemukan dpat mengarah kepada maslah emosional. Kondisi tersebut juga membawa resiko darah tinggi, serangan jantung, struke, diabetes, dll.

 Aktifitas fisik.
Orang dewasa yang aktif secara fisik mendapatkan banyak keuntungan. Disamping membantu mempertahankan berat badan yang diinginkan, aktifitas fisik juga dapat membangun otot, menguatkan jantung dan paru-paru, melingdungi dari segala jenis penyakit, osteoporosis, meredakan kekhawatiran dan depresi serta memanjangkan umur.

5
 Merokok.
Alasan orang untuk merokok adalah karena rokok bersifat menyandu. Kecenderungan menyandu bisa karena factor keturunan, dan beberapa gen tertentu bisa jadi mempengaruhi kemampuan untuk berhenti

Pengaruh tidak langsung pada kesehatan dan kebugaran

Status sosioekonomi dan ras/etniksitas. Hubungan antara status sosioekonomi dan kesehatan telah didokumen tasikan secara luas. Orang-orang dengan pendapatan yang lebih tinggi mendapatkan nilai kesehatan yang lebih tinggi dan usia yang lebih panjang dibandingkan dengan yang berpenghasilan yang lebih rendah. Pendidikan juga merupakan sesuatu yang penting, semakin rendah pendidikan seseorang, semakin besar kemungkinan mereka tewas akibat penyakit, cedera, dan penyakit kronis yang dapat menular dan menjadi orban pembunuhan dan bunuh diri.

Hal ini tidak berarti pemasukan dan pendidikan merupakn penyebab kesehatan yang baik, akan tetapi kondisi tersebut berkaitan dengan factor lingkungan dan gaya hidup. Kemiskinan diasosiasikan dengan nutrisi buruk, perumahan dibawah standar, keterbukaan terhadap polusi dan prilaku kekerasan.

Asosiasi antara pemasukan, pendidikan dan kondisi pemungkiman dan kesehatan membanu memberikan penjelasan terhadap kondisi kesehatan yang relative buruk pada beberapa populasi minoritas. Perbedaan etnis dalam kesehatan tidak seluruhnya diatributkan kepada sosioekonomi. Misalnya walaupun afro-america lebih sedikit meroko ketimbang kulit putih tetapi mereka memetabolisme lebih banyak nikotin dalam darah mereka sehingga rentang terhadap kanker paru-paru.

6

Kergaman dalam sebagian besar indicator kesehatan semakin menipis pada 1990an bagi semua kelompok ras dan etnik, walaupun hal ini tidak berlaku bagi Indian amreika dan penduduk asli Alaska. Akan tetapi keragaman rasial dan etnis dalam kematian akibat cedera yang berkaitan dengan pekerjaan, tabrakan dan bunuh diri.

Gender. Wanita memiliki tingkat kemungkinan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria dan tingkat kematian yang lebih rendah sepanjang hidup. Panjangnya usia wanita diatributkan kepada perlindungan genetic yang diberikan oleh kromosom X kedua. Walaupun demikian factor sikososial dan cultural, seperti kecendrungan ria terhadap pengambilan resiko dan pemilihan daging serta kentang ketimbang buah dan sayuran, juga memainkan perang.

Lebih besarnya kecenderungan wanita mencari perawakan medis tidak selalu berarti kesehatan wanita lebih buruk dibandingkan pria. Kesadaran public akan isu kesehatan telah meningkat. Ketersediaan penanganan impotensi dan tes pemindaian kanker prostat membawa lebih banyak pria keruang dokter. Pada saat yang sama gaya hidup wanita semakin mirip dengan gaya hidup pria maka pada tingkat yang tertentu mereka juga memiliki pola kesehatan pria.

Hubungan dengan orang lain dan kesehatan. Hubungan personal tampaknya vital bagi kesehatan. Ikatan sosial bisa jadi mendorong perasaan akan makna atau hubungan dalam hidup. Orang yang menikah khususnya pria cenderung lebih sehat secara fisik dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah menikah, menjanda, berpisah dan khususnya bercerai. Orang yang menikah juga cenderung lebih baik secara financial, factor yang diasosiasikan dengan kesehatan fisik dan mental dalam sebuah studi terhadap lebih dari 36000 ribu pria dan wanita usia 25-64 tahun, orang yang menikah hidup lebih lama ketimbang yang tidak akan tetapi orang-orang dengan pemasukan yang tinggi, melajang atau
7
menikah namun dengan pengasilan yang rendah, tingkat kematian tertinggi terdapat pada mereka yang melajang dan berpenghasilan rendah.

III. Perkembangan kognitif

Pikiran sehat menyatakan kepada kita bahwa orang dewasa berpikir dengan cara yang berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Beberapa perspektif terhadap kognisi orang dewasa.
Dibalik Piaget: pergeseran ke pemikiran post-formal.Pemikiran pada masa dewasa cenderung tampak fleksibel, terbuka, adaptif, dan individualistis. Tahap kognisi orang dewasa ini sering kali disebut pemikiran postformal yang bersifat relative. Pemikiran postformal melihat bayangan abu-abu. Pemikiran tersebut sering kali muncul sebagai respon terhadap peristiwa dan interaksi membuka cara pandang tidak biasa terhadap sesuatu dan menantang pandanan sederhana terpolarisasi terhadap dunia. Pemikiran tersebut memungkinkan orang dewasa melampaui system logika tunggal dan mendamaikan atau memilih diantara beberapa ide yang saling berlawanan.

Jan Sinnott, salah seorang periset terkemuka, mengemukakan beberapa criteria pemikiran postformal. Diantaranya

 Fleksibel. Kemampuan untuk maju dn mundur antara pemikira abstrak dan pertmbangan praktis dan nyata.

 Multikausalitas, multisolusi. Kesadaran bahwa sebagian besar masalah memilik lebih dari satu penyebab dan lebih dari satu solusi, dan sebagian solusi bekecenderungan lebih besar untuk berhasil dibandingkan yang lain.

 Prakmatisme. Kemampuan untuk memilih yang terbaik dari beberapa kemungkinan solusi dan menyadari criteria pemilihan tersebut.
8
 Kesadaran akan paradoks. Menyadari bahwa masalah atau solusi mengandung konflik infern.

Schaie: Model Rentang Kehidupan Perkembangan Kognitif. Model schaie melihat perkembangan penggunaan inteletual dalam konteks sosial. Tujuh tahapnya berkaitan dengan tujuan yang muncul ke permukaan dalam berbagai tahap usia. Tujuan ini bergeser dari penguasaan informasi dan keterampilan (apa yang harus saya ketahui) kepada intergrasi praktis pengetahuan dan keterampilan (bagaimana menggunakan apa yang saya ketahui) untuk mencari makna dan tujuan (mengapa saya harus tahu). Berikut ini ada tujuh tahapan:

 Tahap pencarian (masa kanak-kanak dan remaja). Anak-anak dan remaja menguasai informasi untuk kepentingan mereka sendiri atau sebagai persiapan berpartisipasi di masyarakat.

 Tahap pencapaian (masa remaja akhir atau awal 20-30an). Para pemuda tersbeut tidak lagi mendapatkan informasi bagi kepentingan mereka sendiri; mereka menggunakan apa yang mereka ketahui untuk mengejar target, seperti karier dan keluarga.

 Tahap pertanggungjawaban (akhir 30an sampai awal 60an). Orang-orang setengah baya menggunakan pikiran mereka untuk memecahkan masalah praktis yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap orang lain.

 Tahap eksekutif (30an atau 40an sampai usia pertengahan). Orang-orang yang berada dalam tahap eksekutif, yang mungkin tumpang tindah dengan tahap pencapaian dan pertanggungjawaban , bertanggung jawab terhadap system sosial atau gerakan sosial. Mereka berhadapan dengan relasi kompleks di berbagai level.
9
 Tahap reorganisasi (usia pertengahan, mulai di akhir masa dewasa). Orang-orang yang memasuki masa pension mereorganisir hidup dan energi intelektual mereka seputar aktifitas bermakna yang menggantikan pekerjaan mereka.

 Tahap reintegratif (akhir masa dewasa). Orang dewasa lebihtua, yang mungkin telah mundur dari beberapa keterlibatan sosial dan yang mungkin funsi kognitifnya mungkin sudah dibatasi oleh perubahan biologis, adalah mereka yang sudah lebih selektif terhadap tugas yang ingin mereka kerjakan.

 Tahap penciptaan warisan (usia tua). Mendekati akhir hidup, ketika reintegritas telah selesai, orang yang lebih tua mungkin menciptakan instruksi pewarisan kepemilikan berharga, membuat pengaturan pemakaman, memberi cerita warisan, membuat pengaturan pemakanan, atau menulis cerita hidup mereka sebagai warisan orang kepada orang yang mereka cintai.

IV. Perkembangan moral

Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral anak-anak dan remaja mengiringi kematangan kognisi. Pada masa dewasa, penilaian moral seringkali menjadi lebih kompleks. Pengalaman mungkin mengarahkan orang dewasa untuk mengevaluasi kembali criteria mereka tentang bener dan salah. Sebagian orang secara spontan menyebut pengalaman personal sebagai alas an jawaban mereka terhadap dilemma moral. Misalnya, orang-orang yang mengidap kanker atau saudara yang memiliki penyakit tersebut, berkecenderungan lebih besar memaafkan pria yang mencuri obat mahal semi istrinya yang sedang sakit sekarat, dan menjelaskan pandangan ini dari pengalaman mereka sendiri (Bielby&Papalia, 1975). Pengalaman seperti ini amat di warnai oleh emosi, memicu pemikiran ulang dengan cara yang tidak biasa dilakukan oleh diskusi impersonal dan hipotesis, dan pengalaman ini lebih mungkin membuat orang melihat sudut pandang orang lain.
10
Dengan demikian, berkenaan dengan penilaian moral, tahapan kognitif bukanlah segalanya. Tentu saja seseorang yang pemikirannya masih egosentris berkecenderungan lebih kecil membuat keputusan moral pada level postkonvensional; akan tetapi bahkan seseorang yang dapat berpikir secara abstrak bisa jadi tidak mencapai level tertinggi perkembangan moral kecuali pengalamannya menyatu dengan kognisisnya. Pengalaman diinterpretasikan dalam konteks cultural.

Tahap ketujuh. Beberapa saat sebelum kematian Kohlberg ditahun 1987, ia mengemukakan tahap ketujuh penalaran moral, yang bergerak melampaui keadilan dan lebih mirip dengan transenden diri pada tradisi timur. Pada tahap ketujuh, orang dewasa menjawab pertanyaan, “mengapa harus bermoral?” (Kohlberg & ryncarz,1990, hlm. 192; peneknan dalam kalimat tersebut merupakan tambahan). Jawabannya, kata Kohlberg, terletak pada pencapaian perspektif kosmis “perasaan menyatu dengan alam, kosmos, atau Tuhan”, yang memungkinkan seseorang melihat isu moral “dari sudut pandang dunia sebagai sebuah kesatuan” (Kohlberg & ryncarz,1990, hlm. 1991,207).

Gender dan perkembangan moral. Carol Gilligan (1982, 1987a,1987b) berpendapat bahwa system kolhberg memberikan tempat lebih tinggi kepada nilai “maskulin” keadilan ketimbang nilai “feminine” perasaan kasih saying, tanggung jawab dan perhatian.

V. Perkembangan psikososial
Empat pendekatan perkembangan psikososial orang dewasa diwakili oleh:

a. Model Tahapan Normatif
Erikson percaya bahwa kepribadian terus berubah sepanjang hidup. Model normative ini-keseluruhannya didasarkan pada riset yang hanya dilakukan
terhadap pria-menyatakan bahwa semua orang mengikuti rangkaian dasar
11
perubahan terkait usia dan emosional yang sama. Perubahan tersebut bersifat
normatif, dalam arti perubahan tersebut tampaknya sebagai hal yang biasa bagi sebagian besar anggota populasi; dan muncul dalam periode berurutan, atau tahapn-tahapan, yang terkadang ditandai dengan krisis emosional yang melapangkan jalan kepada perkembangan yang lebih jauh lagi. Tahap keenam perkembangan psikososial Erikson, intimasi versus isolasi, adalah isu utama masa dewasa awal. Jika seorang dewasa awal tidak dapat membuat komitmen personal yang dalam terhadap orang lain, kata Erikson, maka mereka akan terisolasi dan terpaku pada kegiatan dan pikiran sendiri (self absorb). Akan tetapi, mereka juga butuh kesendirian sebagai upaya merefleksikan kehidupan meraka. Ketika mereka berusaha menyelesaikan tuntutan saling berlawanan dari intimisi, kompetisi dan jarak, mereka mengembangkan pemahaman etis, yang dianggap Erikson sebagai tanda kedewasaan. Pesan terpenting model tahapan normative asalah orang dewasa harus terus berubah, berkembang, dan tumbuh. Terlepas apakah seseorang akan tumbuh atau tidak dalam cara tertentu yang dilakukan oleh model tersebut, mereka telah menantang pendapatan yang menyatakan bahwa jarang sekali hal penting terjadi pada kepribadian setelah masa remaja.

b. Model timing of event
Alih-alih melihat perkembangan kepribadian orang dewasa sebagai fungsi dari usia, model timing of event, yang didukung oleh Bernece Neugarten dan yang lain (Neurgarten, Moore & Lowe, 1965; Neurgarten & Neurgarten, 1987), berpendapat bahwa rangkaian perkembangan tersebut tergantung kapan peristiwa tertentu terjadi dalam kehidupan seseorang. Peristiwa yang terrjadi sesuai perkiraan disebut tepat waktu (on time); sedangkan peristiwa yang terjadi lebih awal atau lebih lambat disebut off time. Peristiwa yang menajdi normative ketika terjadi “tepat” waktu menjadi tidak normatif ketika terjadi “di luar waktu” yang telah diperkirakan.

12
c. Model trait
Model trait memperhatikan stabilitas atau perubahan dalam sifat kepribadian. Paul T. Costa dan Robert R. McCrae, telah mengembangkan dan menguji model lima factor yang terdiri dari berbagai factor yang tampaknya mendasari lima kelompok sifat yang saling berhubungan yaitu:

 Neurosisme. Kumpulan enam sifat negative yang mengindikasikan ketidakstabilan emosional: kepanikan, sikap bermusuhan, depresi, kesadaran diri, impulsive dan rapuh.

 Extraversion. Orang extravert bersifat sosial dan menyukai perhatian. Mereka terus sibuk dan aktif; mereka secara konstan mencari kehebohan dan mereka menikmati kehebohan.

 Open to experience. Orang yang oen to experience ingin mencoba hal-hal yang barudan penuh berisi ide-ide yang baru.

 Conscientious. Orang–orang conscientious adalah mereka yang berprestasi; mereka kompeten, teratur, patuh, tenang, dan berdisplin.

 Agreeable. Orang yang agreeable adalah mereka yang dapat dipercaya, terus terang, mengalah, rendah hati, mudah dipengaruhi.

d. Model Tipologikal

Block (1971) merupakan pelopor pendekatan tipologis. Pendekatan ini memandang kepribadian sebagai pelaksanaan fungsi yang mempengaruhi dan yang merefleksikan sikap, nilai, perilaku, dan interaksi sosial. Riset tipologis tidak selalu berlawanan dengan riset sifat, tetapi mencoba melengkapi dan memperluasnya (Caspi, 1998). Menggunakan berbagai teknik termasuk
13
wawancara, penilaian klinis, pemeringkatan perilaku, dan pelaporan mandiri, para periset yang bekerja secara independent berjasil mengidentifikasikan beberapa tipe kepribadian dasar. Tiap tipe yang telah muncul dalam sejumlah study adalah:

 Ego-risilient. Orang ego-risilient dapat menyesuaikan diri dengan baik; percaya diri, independent, pandai berbicara, atentif, membantu, kooperatif, dan berfokus pada tugas.

 Overcontrolled. Orang overcontrolled cenderung pemalu, diam, penuh rasa khawatir, dan bergantung kepada orang lain.

 Undercontrolled. Orang undercontrolled lebih aktif, energik, impulsif, gigih dan mudah tertarik.

VI. Pendidikan, Karier, dan pernikahan

Pilihan pendidikan dan pekerjaan setelah SMU berasal dari perkembangan kognitif pada tahun yang lebih awal dan sering kali mempresentasikan peluang pertumbuhan kognisi yang lebih jauh lagi

Transisi ke universitas. Pada 1970-an, wanita cenderung menjadi mayoritas pada lapangan yang secara tradisional feminine”, seperti pendidikan, perawat, dan psikologi. Mayoritas lulusan teknik dan ilmu computer masih dipegang pria, akan tetapi jurang gender semakin menyempit pada ilmu pengetahuan alam dan semakin mendekat pada matematika dan ilmu fisika (NCES Digest, 2001).

14
Status sosioekonomi memainkan peran besar pada akses pendidikan tinggi. Pada 1999, 76% lulusan SMU dari keluarga kelas atas – dibandingkan 49% dari keluarga kelas bawah – segera mendaftar ke perguruan tinggi (NCES Digest, 2001). Mayoritas mahasiswa mendaftar diri pada institute bermasa pendidikan empat tahun dan memberi gelar kesarjanaan, dan sebagian besar yang menyelesaikan tahun pertama mereka melanjutkan studi mereka sampai mendapatkan gelar (NCES 1999, 2001).

Sebagian besar anak muda yang tidak mendaftarkan diri pada pendidikan tinggi, atau tidak menyelesaikan pendidikannya, memasuki pasar kerja, tapi banyak diantara mereka yang kembali ke sekolah beberapa waktu kemudian.
Bagi anak muda pada masa transisi dari remaja ke dewasa, keterbukaannya terhadap pendidikan atau lingkungan kerja baru, yang terkadang jauh dari rumahnya, menawarkan peluang untuk mengasah kemampuannya, mempertanyakan asumsi yang sudah dipegang sejak lama, dan mencoba cara baru memandang dunia.

Pertumbuhan kognitif di perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat menjadi masa penemuan intelektual dan pertumbuhan kepribadian. Pilihan perguruan tinggi dapat mewakili pengejaran terhadap hasrat yang menggebu atau awal dari masa depan. Dibalik peningkatan dalam kemampuan penalaran, pengalaman perguruan tinggi dapat mengarah kepada perubuhan fundamental dalam cara mahasiswa berpikir.

Memasuki dunia kerja. Penyesuaian pertama yang dianggap pokok adalah memilih bidang yang cocok dengan bakat, minat dan faktor psikologis lainnya yang secara hakiki sulit dipungkiri agar kesehatan mental dan fisiknya sebagai orang dewasa dapat terjaga. Sehubungan dengan itu, maka orang dewasa telah menentukan pilihannya jauh-jauh hari sebelum mereka bekerja,

15
sehingga jauh-jauh hari pula mereka melatih diri sesuai dengan prasyarat yang diperlukan untuk jenis tugas yang mereka anggap cocok dengan minat dan bakatnya.

Penyesuaian kedua yang dianggap penting bagi orang dewasa muda adalh pilihan jurusan harus dilakukan dengan mantap. Seberapa jauh tingkat kemantapan pemilihan jurusan bagi seseorang bergantung pada tiga factor, yaitu pengalaman pekerjaan, daya tarik pribadi terhadap perkerjaan, dan nilai yang terkandung pada pekerjaan yang dipilih.
Bentuk penyesuaian ketiga yang perlu perlu dilakukan adalah penyesuaian terhadap jenis pekerjaan yang dipilihnya.

Kompleksitas kognitif pekerjaan. Riset otak memberikan penjelasan bagaimana orang menghadapi pekerjaan yang kompleks.perkembangan yang sempurna pada lobus frontal pada masa dewasa awal telah memungkinkan orang utnuk melakukan pekerjaan dalm satu waktu. Magnetic resonance imaging mengungkapkan bagian paling depan lobus frontal, fronto-polar prefrontal cortex (FPPC) memiliki funsi khusus dalam memecahkan masalah dan perencanaan.

Pendidikan dan literasi orang dewasa. Banyak orang dewasa ini yang berusaha meningkatkan keterampilan kerja mereka. Literasi merupakan persyaratan fundamental untuk berpartisipasi bukan hanya di tempat kerja tapi juga dalam segala segi masyarakat informasi modern. Orang dewasa terpelajar adalah mereka yang dapat menggunakan informasi cetak dan tertulis untuk berkativitas dalam masyarakat, mencapai target mereka, dan mengembangkan pengetahuan dan potensi mereka.

16
VII. Isu-isu seksualitas

Aturan bagi perilaku yang dapat diterima pada saat ini lebih elastis dibandingkan pada paruh pertama abad kedua puluh. Norma pada saat ini tidak lagi mendikte bahwa seseorang harus menikah, terus berada dalam perkawinan, atau memiliki anak, dan usia pada berapa hal tersebut harus dilaksanakan. Orang-orang bisa saja terus melajang, hidup bersama dengan pasangan berjenis kelamin sama atau berbeda tanpa ikatan pernikahan, bercerai, menikah kembali, menjadi orang tua tunggal, atau terus hidup tanpa kehadiran seorang anak; dan pilihan seseorang sangat mungkin berubah sepanjang masa dewasa.

Hidup sendiri. Jumlah dewasa awal yang belum menikah terus meningkat secara dramatis. Pada saat sebagian orang muda, mereka terus melajang karena tidak mendapatkan pasangan yang tepat, yang lain melajang karena mereka memilih untuk melajang. Sebagian orang ingin bebas dalam mengambil resiko, pengalaman, dan membuat perubahan- berpindah ke Negara atau benua lain, mengejar karir, dan melanjutkan study, atau melakukan karya kreatif tanpa harus khawatir bagaimana pencarian akan kepuasan diri mereka mempengaruhi orang lain. Sebagian dari mereka menikmati kebebasan seksual. Sebagian yang lain menemukan gaya hidup tersebut sebagai hal yang menarik. Sebagian lagi menyukai hidup sendiri. Sebagian lagi menunda atau membatalkan perkawinan karena akan berakhir dengan perceraian.

Hubungan Gay dan Lesbian. Hubunan gay dan lesbian mengambil banyak bentuk, tetapi mayoritas homoseksual (seperti halnya heteroseksual) mencari cinta, persahabatan, dan kepuasan seksual melalui hubungan dengan seseorang. Karena kuatnya penolakan sosial terhadap homoseksual, pengungkapan- proses menyatakan secara terbuka orientasi homoseksual- sering kali berlangsung lambat dan menyakitkan. Pengungkapan biasanya terjadi
17

dalam empat tahapan, yang bisa jadi tidak akan pernah tercapai secara sempurna (King, 1996):

1. Menyadari bahwa dirinya homoseksual. Tahap ini mungkin terjadi pada masa kanak-kanak atau baru terjadi pada masa remaja atau setelah masa tersebut. Tahap ini dapat menjadi pengalaman yang sangat membingungkan, menyedihkan, dan membuat rendah diri.

2. Mengenal homoseksual lainnya dan membentuk hubungan seksual dan romantis. Tahap ini mungkin baru akan terjadi pada masa dewasa. Berhubungan dengan homoseksual lainnya dapat menghilangkan perasaan isolasi dan meningkatkan citra diri.

3. Memberitahu keluarga dan teman. Banyak homoseksual yang tidak berani melakukan hal ini dalam waktu yang panjang – jika memang hal tersebut dilakukan pada akhirnya. Pengungkapan tersebut dapat menimbulkan penolakan, konflik, dan ketidaksetujuan; atau sebaliknya, hal tersebut mempererat solidaritas dan dukungan keluarga (Mays, Chatters, Cochran, & Mackness, 1998).

4. Keterbukaan sempurna. Tahap ini termasuk memberitahukan kepada keluarga, pegawai, dan yang lain. Homoseksual di tahap ini telah mencapai penerimaan yang sehat terhadap seksualitas mereka sebagai bagian dari diri mereka.

Kumpul kebo. Kumpul kebo adalah gaya hidup dimana pasangan belum menikah yang terlibat dalam hubungan seksual hidup bersama dalam apa yang tekadang disebut informal union. Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan ini dapat dijadikan sebagai pengganti perkawinan atau sebagai “perkawinan percobaan”. Para pelaku hidup bersama cenderung memiliki sikap tidak biasa

18
berkaitan dengan kehidupan keluarga. Dan dibandingkan dengan mayoritas orang lain, mreka cenderung lebih kecil memilih pasangan yang seumur, seetnis, dan yang memiliki latar belakang perkawinan yang sama dengan mereka

Pernikahan. Adat pernikahan amat beragam, akan tetapi universalitas beberapa bentuk pernikahan sepanjang sejarah dan diberbagai pelosok dunia mengisyaratkan pernikahan memenuhi kebutuhan dasar. 3 jenis pernikahan:
 Monogamy. Menikah dengan satu pasangan; merupakan norma sebagian masyarakat berkembang.
 Poligami. Seorang pria menikahi banyak wanita dalam satu waktu; hal yang umum terjadi di Negara Islam, Masyarakat Afrika, dan sebagian dari Asia.
 Poliandrus. Seorang wanita memiliki beberapa suami.
Pada mayoritas masyarakat, pernikahan dianggap cara terbaik menjamin keteraturan dalam membesarkan anak. Pernikahan memungkinkan pembagian dalam hal konsumsi dan perkejaan. Idealnya, pernikahan menawarkan intimasi, komitmen, persahabatan, kasih saying, pemuasan seksual, pendampingan dan peluang bagi pertumbuhan emosional, serta sumber identitas dan kepercyaan diri yang baru.
Menjadi orang tua. Bayi pertama menandakan perubahan besar dalam kehidupan orang tua. Sosok baru yang amat tergantung orang lain secara penuh ini mengubah individu dan hubungannya. Ketika si anak berkembang, orang tua juga berkembang. Baik pria dan wanita memiliki perasaan bercampur aduk saat menjadi orang tua. Bersama dengan kegairahan, mereka mungkin merasakan kecemasan akan tanggung jawab membesarkan anak dan komitmen pada waktu serta enegi yang dituntut.

Perceraian. Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut
19
harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju ke pengadilan. Dibawah ini ada faktor yang sering kali terjadi:
 Kesetian dan kepercayaan : Didalam hal ini yang sering kali menjadi pasangan rumah tangga bercerai, dalam hal ini baik pria ataupun wanita sering kali mengabaikan peranan kesetiaan dan kepercayaan yang diberikan pada tiap pasangan, hingga timbul sebuah perselingkuhan.
 Seks : Didalam melakukan hubungan seks dengan pasangan kerap kali pasangan mengalami tidak puas dalam bersetubuh dengan pasangannya, sehingga menimbulkan kejenuhan tiap melakukan hal tersebut, dan tentunya anda harus mensiasati bagaimana pasangan anda mendapatkan kepuasan setiap melakukan hubungan seks.
 Ekonomi : Tingkat kebutuhan ekonomi di jaman sekarang ini memaksa kedua pasangan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga seringkali perbedaan dalam pendapatan atau gaji membuat tiap pasangan berselisih, terlebih apabila sang suami yang tidak memiliki pekerjaan.
 Pernikahan tidak dilandasi rasa cinta : Untuk kasus yang satu ini biasanya terjadi karna faktor tuntutan orang tua yang mengharuskan anaknya menikah dengan pasangan yang sudah ditentukan, sehingga setelah menjalani bahtera rumah tangga sering kali pasangan tersebut tidak mengalami kecocokan.
 Keturunan : Anak memang menjadi impian bagi tiap pasangan, tetapi tidak semua pasangan mampu memberikan keturunan, salah satu penyebabnya mungkin kemandulan pada salah satu pasangan tersebut, sehingga menjadikan sebuah rumah tangga menjadi tidak harmonis.

20

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.